PEMBENTUKAN POSYANDU USILA DI KAB. ENREKANG

Di Kabupaten Enrekang telah terbentuk posyandu usila sebanyak 178 buah yang tersebar di semua desa di Kab. Enrekang, Dengan adanya posyandu usila ini di harapkan kepada semua sasaran usila yang ada di wilayah puskesmas  agar rajin ke posyandu  untuk mengetahui perkembangan penyakit yang di derita oleh usila misalnya penyakit jantung , Hipertensi, rematik, Usia lanjut memang merupakan proses alami manusia yang tidak dapat di cegah, namun dengan adanya posyandu usila ini  di harapkan kepada semua sasaran agar senantiasa hadir pada saat di adakan posyandu,Pelayanan untuk kelompok lansia kedepan terutama dari segi, penyakit hipertensi, Rematik berat badan lebih, intelejensia,dll perlu semakin mendapat perhatian yang lebih, Karena jumlah kelompok ini akan semakin  meningkat akibat bertambahnya Usia Harapan Hidup (UHH) Ini terlihat dari meningkatnya umur harapan hidup  di kabupaten Enrekang, dalam hal status kesehatan usila rentan terhadap , Menurut data laporan dari 13 puskesmas di kab. Enrekang tahun 2011 terdiri  dari Pkm Maiwa :  36 buah, PKM Kabere: 9 buah, PKM Kota:   16 buah, PKM Anggeraja : 15 buah PKM Baraka:24 buah, PKM Malua: 8 buah, PKM Bt. Batu;  8 buah, PKM Kalosi:   6 buah,PKM  Sudu: 11 buah,PKM sumbang: 12 buah,PKM Masalle : 6 buah,PKM Baroko : 15 Buah, PKM Bungin : 12 Buah, dan diupayakan kedepan akan di bentuk pada setiap lingkungan

UPAYA KESEHATAN GIGI MULUT DI SEKOLAH ( UKGS )

Kegiatan UKGS ini adalah sesuai UU kesehatan no 36 tahun 2009   Bab V     pasal 48 berbunyi pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk memulihkan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk peningkatan kesehatan gigi, pencegahan penyakit gigi dan pengobatan penyakit gigi dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan atau  masyarakat  yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan.         Rongga mulut merupakan cerminan kesehatan kita, karena kebanyakan penyakit yang gejalanya dapat dilihat didalam mulut. Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan umumnya, dimana gigi berfungsi untuk mengunyah  makanan, berbicara  dan ,menentukan bentuk wajah dan kecantikan seseorang . Sejak lahir, mulut sudah berfungsi untuk menangis , menyusui pada ibu dan semakin besar anak bertambah pula fungsi dari mulut.Agar fungsi mulut berjalan dengan baik diperlukan pemeliharaan kebersihan dan kesehatannya. Apabila kesehatan gigi dan mulut dibiarkan tidak bersih gigi geligi akan tertutup oleh lapisan  “ plaque “  ( plak ). Plak merupakan endapan lunak sisa-sisa makanan yang melekat erat menutupi permukaan gigiyang terdiri dari bahan perekat seperti agar-agar dan bakteri, apabila menderita sakit gigi yang kronis merupakan salah satu penyebab timbulnya penyakit jantung.Plak ini lama kelamaan akan menyebabkan gigi berlubang atau radang gigi. Untuk membersihkan gigi mulut yang paling sederhana dan mudah dapat dilakukan dengan menyikat gigi geligi secara teratur dan benar. Baca lebih lanjut

Anggota Dewan Kunjungi Pasien Kurang Mampu di RSUM

Dua legislator tersebut adalah Hj Marlina dan Andy Hendra. Mereka mengkunjungi pasien penderita epilepsi serta ganguan syaraf Salman. Remaja miskin dan yatim piatu ini dirawat di Bamba Puang 5.Aksi sosial dilakukan oleh dua legislator DPRD Enrekang, Selasa kemarin dengan mengkunjungi pasien kurang mampu yang dirawat di RSU Massenrempulu Enrekang. Selain itu, keduanya datang sekaligus memberi sejumlah bantuan uang. Menurut Andy Hendra , dirinya ikut prihatin atas kondisi yang dialami remaja asal Kecamatan Bungin tersebut. Apalagi, kata dia, Salman sejak kecil telah hidup dan berjuang menafkahi diri dan keluarganya. Makanya Andy merasa terpanggil. Hj Marlina yang juga membesuk Salman kemarin mengatakan hal yang sama. Dia berharap, Salman bisa segera pulih. Dia juga meminta Pemerintah Kabupaten mempermudah Salman untuk berobat ke Makassar. “Kalau pemerintah lepas tangan dan tidak bisa membantunya (Salman, red), kita akan carikan jalan sendiri,” jelas Marlina di depan Salman. Keduanya juga berniat bakal memperjelas status bantuan Salman dari pemerintah. Kemarin, selepas dari ruang rawat remaja tersebut, Marlina dan Andy Hendra langsung menuju ke Sekretariat Daerah. Baca lebih lanjut

Sosialisasi Keluarga Sadar Gizi

Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan terus melakukan sosialisasi dalam mengatasi masalah dan perilaku gizi dengan menggenjot asupan gizi melalui program Keluarga Sadar Gizi (Kadarsi) dengan sasaran utama ibu hamil dan balita.Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang melalui Kabid Binkesmas Hj. Djumiati Nurhasan disela-sela pemantauan Kadarsi di Kecamatan Anggeraja,mengatakan, kondisi lapangan menunjukkan masalah kurang gizi lebih banyak disebabkan belum terpenuhinya asupan makanan dengan gizi berimbang.“Khusus pada ibu hamil dan menyusui, kebiasaan mengurangi konsumsi makanan justru mengakibatkan pada kekurangan vitamin, sedangkan kehamilan membutuhkan zat besi serta vitamin dan tidak perlu mengurangi makanan,” kata Hj. Djumiati. Baca lebih lanjut

PENGAWASAN PANGAN JAJANAN ANAK SEKOLAH (PJAS) DAN SWEEPING PANGAN DI PASAR TRADISIONAL DI KABUPATEN ENREKANG MELALUI SISTEM PENGAWASAN BERLAPIS

Pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia dan pemerintah berkewajiban menjamin ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi. Karena pangan sangat penting bagi pertumbuhan, pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan, serta kecerdasan masyarakat untuk melaksanakan pembangunan nasional. sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.Pangan sebagai komoditas dagang memerlukan dukungan sistem perdagangan pangan yang jujur dan bertanggung jawab. salah satu upaya yang dilakukan pemerintah baik pusat maupun daerah adalah menerapkan sistem pengawasan pangan berlapis yang meliputi pengawasan pre market dan pengawasan post market. Sistem pengawasan pangan ini melibatkan sector produsen yang bertanggung jawab terhadap produk yang diproduksinya sebelum diedarkan (fungsi pengawasan premarket), Pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan bekerja sama dengan sector terkait dan Masyarakat berperan dalam pengawasan produk pangan setelah diedarkan (fungsi pengawasan postmarket). Pemerintah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pembinaan, pengaturan, pengendalian, dan pengawasan terhadap ketersediaan pangan yang tidak hanya cukup, tetapi juga harus bermutu, aman, dan bergizi serta terjangkau oleh daya beli masyarakat. sedang masyarakat sebagai konsumen (end user) memiliki peran yang sangat luas dalam mewujudkan perlindungan bagi orang yang mengkonsumsi pangan dan menyampaikan permasalahan, masukan atau cara pemecahan mengenai hal-hal dibidang pangan.System pengawasan berlapis tersebut bukan hanya sebagai saringan terhadap peredaran produk pangan yang tidak memenuhi persyaratan mutu, manfaat dan keamanan, namun sebagai wadah sosialisasi dan pembinaan terhadap pelaku usaha. Karena pelanggaran dibidang pangan tidak semata-mata terjadi karena ulah nakal produsen yang sengaja menambahkan bahan kimia berbahaya kedalam produk pangan tetapi beberapa diantaranya dikarenakan ketidaktahuan mereka tentang bahan tambahan yang mereka gunakan, tatacara produksi pangan yang baik, praktik sanitasi dan hygiene yang buruk dalam pengolahan pangan. Hal ini merupakan factor utama penyebab masalah global keamanan pangan, sehingga perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dalam penetapan kebijakan.Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) memberi peranan yang cukup penting dalam memberikan asupan energi dan gizi bagi anak-anak kelompok usia sekolah, akan tetapi tingkat keamanan pangan jajanan anak sekolah sangat memprihatinkan. Penyalahgunaan bahan berbahaya seperti Borax, Formalin, Methanyl Yelllow dan Rhodamin B oleh produsen pangan jajanan adalah salah satu contoh rendahnya tanggung jawab dan tingkat pengetahuan produsen mengenai keamanan pangan jajanan.Dinas Kesehatan kabupaten Enrekang memiliki perhatian yang cukup besar terhadap keamanan pangan, hal ini dapat dilihat melalui kegiatan rutin tahunan yang diadakan oleh Bidang Bina Pelayanan Kesehatan, seksi pelayanan kefarmasian, mamin dan alkes, yaitu:

1. kegiatan pembinaan industri produk pangan rumah tangga (PIRT), Kegiatan ini fokus terhadap pembinaan Industri Pangan skala Rumah Tangga, pembinaan ini dimaksudkan agar industri pangan rumahan dapat menerapkan prinsip-prinsip cara produksi pangan yang baik yang dibuktikan dengan sertifikat penyuluhan keamanan pangan yang diberikan kepada penanggungjawab produksi yang telah mengikuti pelatihan/penyuluhan kemanan pangan termasuk penerapan CPPB-IRT (cara Produksi Pangan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga) dan sertifikat produk pangan industri rumah tangga yang diberikan kepada produk pangan olahan sebagai nomor pendaftaran/izin edar pangan olahan tersebut setelah melalui proses penilaian.

2. Kegiatan pengawasan sediaan farmasi dan produk pangan, kegiatan ini merupakan kegiatan sweeping terhadap produk pangan dan Sediaan farmasi (obat dan Kosmetik) yang beredar dipasaran yang tidak terbatas pada produk industri pangan rumah tangga tetapi juga produk yang diproduksi oleh produsen besar serta pengawasan produk sediaan farmasi dan kosmetik yang tidak memenuhi syarat.

Disamping itu Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang juga melakukan koordinasi lintas sektor seperti yang telah dilakukan beberapa waktu lalu yaitu bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Enrekang melakukan sweeping dan sampling terhadap pangan segar (ikan dan tahu) yang diduga menggunakan bahan kimia (Formalin) sebagai pengawet. Sweeping dilakukan ditiga lokasi dalam waktu yang berbeda yaitu Pasar Sudu di kec. Alla, Pasar Enrekang di Kec. Enrekang dan Pasar Maiwa di Kec. Maiwa.. dari 69 sample yang diperiksa di laboratorium Dinas Kesehatan Kab. Enrekang ditemukan 41 sampel yang positif menggunakan formalin sebagai pengawet.Dinas Kesehatan Kab. Enrekang juga telah berkoordinasi dengan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Makassar yang pada bulan Maret 2011 lalu melakukan Sosialisasi Pengawasan Pangan jajanan Anak Sekolah (PJAS) yang dihadiri langsung oleh Kepala Balai Besar POM di Makassar. Dalam sambutannya beliau mejelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan rangkaian kampanye nasional keamanan pangan jajanan anak sekolah (PJAS) dalam rangka membangun sistem keamanan pangan terpadu dengan melibatkan sector terkait, kemudian ditidaklanjuti dengan menurunkan Laboratorium Mobilnya ke beberapa Sekolah Dasar di Kec. Enrekang pada tanggal 17 Desember 2011 lalu. Kegiatan mobile lab ini focus terhadap pangan jajanan anak sekolah. Dari hasil sampling tersebut ditemukan satu produk yang tidak memenuhi syarat karena mengandung bahan kimia berbahaya yaitu Rhodamin B, produk tersebut adalah es Badung. Sebagaimana diketahui bahwa Rodamin B adalah pewarna kimia, berwarna merah terang yang dapat menyebabkan iritasi, keracunan dan kanker. Senyawa ini digunakan dalam pewarnaan tekstil dan pembuatan tinta Anggaran yang minim masih merupakan kendala utama dalam mengoptimalkan pengawasan pangan di daerah ini, dan ini menyebabkan bebarapa kegiatan tidak dapat dilaksanakan karena keterbatasan anggaran. Disisi lain, lemahnya pengawasan peredaran produk pangan, obat dan kosmetik juga disebabkan karena tidak adanya PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil) dan tenaga terlatih bidang pangan yaitu inspektur pengawas pangan Daerah (Distric food Inspector) di Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang, karena yang memiliki kewenangan dalam melakukan pemeriksaan dan penyidikan terhadap sarana yang diduga terdapat pelanggaran penyelenggaran pangan adalah PPNS. sementara yang punya kewenangan untuk dapat memberikan pelatihan dan penyuluhan kemaanan Pangan adalah mereka yang telah ditraining dan memiliki sertifikat food inspektur.Sebagai penutup, agar penyelenggaraan sistem keamanan terpadu dapat terlaksana secara optimal maka perlu dibuat perangkat hukum yang didukung dengan sumber Daya yang memiliki kapabilitas dibidangnya, pengadaan Laboratorium Farmasi dan Makanan Minuman untuk pengujian sederhana (rapid test) sehingga hasil pengujian produk pangan, obat dan kosmetik dapat diperoleh lebih cepat.

Enrekang Waspadai DBD

Meski belum tergolong endemik, namun ada baiknya warga Enrekang Sulawesi Selatan, mewaspadai serangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang berpotensi pada saat musim hujan.Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang Dr. Muhammad Yamin disela-sela fogging di pemukiman warga Kecamatan Enrekang, Kamis (19/1).Menurutnya, sejumlah Puskesmas di Enrekang harus siaga dan siap 24 jam memberi pertolongan pertama, mengantisipasi jika sewaktu-waktu ada warga yang disinyalir menderita DBD.”Saya belum menerima laporan pasti jumlah penderita DBD, tapi yang jelasnya pada awal-awal musim penghujan biasanya beberapa penyakit datang bersamaan seperti diare, ispa dan DBD,” kata Muhammad Yamin. Baca lebih lanjut

Dinkes Enrekang Berhasil Terapkan Program GHBS di Desa Pasang

Desa Pasang yang terletak di Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang, dengan jumlah penduduk 880 kepala keluarga (KK), pada awal tahun ini telah menunjukan kemajuan signifikan pada program GHBS setelah dilakukan pembinaan olehi Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang Sulawesi-Selatan.Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang dr.H.Muhammad Yamin mengatakan, pembinaan pada forum desa siaga oleh seksi PHBS berhasil, dan Desa Pasang dinyatakan telah mampu melaksanakan 10 pesan GBHS.“Jumlah kepala keluarga (KK) yang ikut PHBS meningkat 80%, sebelum dilakukan pembinaan hanya berkisar 50% dari 201 KK,” kata dr.HM.Yamin di sela-sela ekspose dan evaluasi program GHBS melalui PHBS diruang pola Kantor Bupati Enrekang, Rabu Baca lebih lanjut